Praje, Tradisi Sunatan di Lombok dengan Naik di atas Tandu Naga

Recents in Beach

Praje, Tradisi Sunatan di Lombok dengan Naik di atas Tandu Naga


Begitu banyak tradisi yang bisa digali dari pulau seribu masjid Lombok. Tradisi pernikahan hingga kematian dianggap sakral bagi warga asli yang mendiami pulau Lombok Nusa Tenggara Barat, yakni suku sasak. Tradisi praje pun tak pernah luput dari daftar kegiatan warga jika putranya hendak disunat.

Ada satu prinsip yang masih dipegang oleh masyarakat asli pulau Lombok, yakni keteguhan untuk menjalankan tradisi yang telah ada sejak zaman nenek moyang. Mereka percaya, jika tradisi tersebut tak dijalankan, maka mereka harus siap dikucilkan oleh masyarakat sekitarnya. Prinsip itulah yang selalu menjadi pengingat warga suku sasak untuk terus menjalankan adat istiadat yang berlaku di pulau penuh wisata ini.

Praje merupakan tradisi perayaan sunatan anak laki-laki waga suku sasak dengan menaiki tandu berbentuk naga yang dipikul oleh para laki-laki dewasa. Usia anak yang disunat antara 8-12 tahun dan beragama Islam.

Selama di atas tandu, anak lelaki yang disunat biasanya didampingi oleh saudara lelaki atau perempuan yang usianya tak berbeda jauh. Meski pembawa tandu adalah lelaki dewasa, namun para peserta praje akan didominasi oleh anak-anak kecil yang berpakaian adat lengkap suku sasak. Semua memainkan alat musik, diantaranya gamelan (gendang beleq), gong panggul, dan simbal. Selama arak-arakan berlangsung, para pengiring musik berjalan sambil bermain musik, sementara para pembawa tandu akan berjalan sambil menari dengan menggerakkan kaki dan menggoyangkan pinggulnya.


Praje menandakan bahwa anak lelaki telah disunat dan siap diarak berkeliling kampung untuk memberitakan kepada masyarakat bahwa ia mulai tumbuh berkembang. Itulah tradisi sunatan di pulau seribu masjid yang dikenal dengan nama praje. Semoga anda beruntung menemukannya ketika berkunjung ke pulau Lombok. (DF)


Posting Komentar

0 Komentar